Etika Bercanda Menurut Al Qur’an dan As Sunnah

download (2)

Oleh al Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc

Bercanda atau bersendau gurau adalah salah satu bumbu dalam pergaulan di tengah-tengah masyarakat. Ia terkadang diperlukan untuk menghilangkan kejenuhan dan menciptakan keakraban, namun tentunya bila disajikan dengan bagus sesuai denga porsinya dan melihat kondisi yang ada. Sebab, setiap tempat dan suasana memang ada bahasa yang tepat untuk diutarakan. Khalil bin Ahmad berkata, “Manusia dalam penjara (terkekang) apabila tidak saling bercanda.”

Pada suatu hari, al Imam asy Sya’bi Rahimahullah bercanda, maka ada orang yang menegurnya dengan mengatakan, “Wahai Abu ‘Amr (kuniah al Imam asy Sya’bi, -red), apakah kamu bercanda?”

Beliau menjawab, “Seandainya tidak seperti ini, kita akan mati karena bersedih.” (al Adab asy Syar’iyah, 2/214)

Namun, jika sendau gurau ini tidak dikemas dengan baik dan menabrak norma-norma agama, bisa jadi akan memunculkan bibit permusuhan, sakit hati dan trauma berkepanjangan.

Pada dasarnya, bercanda hukumnya boleh, asalkan tidak keluar dari batasan-batasan syariat. Sebab, Islam tidak melarang sesuatu yang bermanfaat dan dibutuhkan oleh manusia sebagaimana Islam melarang hal-hal yang membahayakan dan tidak diperlukan oleh manusia. Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Bergaullah kamu dengan manusia (namun) agamamu jangan kamu lukai.” (Shahih al Bukhari, Kitabul Adab)

Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa Sallam dan Para Sahabat Berancada
Manakala kita membuka kembali lembaran sejarah Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam. Kita akan mendapati bahwa beliau adalah sosok yang bijak dan ramah dalam pergaulan. Beliau bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya dan mendudukkan orang sesuai kedudukannya. Beliau berbaur dengan sahabat dan bercanda dengan mereka.

Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam bergaul (dekat) dengan kita. Sampai-sampai beliau mengatakan kepada adikku yang masih kecil, ‘Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan oleh an Nughair?’,” (Shahih al Bukhari no. 6129)

An Nughair adalah burung kecil sebangsa burung pipit. Alkisah, Abu Umari ini dahulu bermain-main dengan burung kecil miliknya. Pada suatu hari burung itu mati dan bersedihlah dia karenanya. Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam yang mengetahui hal itu mencandainya agar tenteram hatinya dan hilang kesedihannya. Mahabenar Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika berfirman,

وَ إِنَّكَ لَعَلىٰ خُلُقٍ عَظِيْمِ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (al Qalam: 4)

Memang, Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa Sallam sangat dekat dengan para sahabatnya sehingga tahu persis kebutuhan dan problem yang mereka hadapi, kemudian beliau membantu mencarikan jalan keluarnya.

Masih kaitannya dengan sendau gurau Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa Sallam, ada beberapa riwayat yang diabadikan oleh ulama hadits, diantaranya,

Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Sungguh, ada seorang lelaki meminta kepada Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam sebuah kendaraan untuk dinaiki. Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam mengatakan, ‘Aku akan memberimu kendaraan berupa anak unta.’ Orang itu (heran) lalu berkata, ‘Apa yang bisa saya perbuat dengan anak unta itu?’ Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam bersabda, ‘Bukankah unta betina itu tidak melahirkan selian unta (juga)?’.” (HR. Abu Dawud dan at Tirmidzi, dinyatakan shahih oleh asy Syaikh al Albani Rahimahullah dalam al Misykat no. 4886)

Orang ini menyangka bahwa yang namanya anak unta mesti kecil, padahal kalau berpikir, dia tidak akan menyangka seperti itu, karena unta yang dewasa juga anak dari seekor unta.

Dalam hadits ini, di samping mencadai orang tersebut, Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa Sallam juga memberi bimbingan kepadanya dan yang lainnya orang yang mencermati lebih dahulu dan tidak langsung membantahnya, kecuali setelah tahu secara mendalam maksudnya (Tuhfatul Ahwadzi 6/128)
Dahulu, ada seorang sahabat bernama Zahir bin Haram Radhiyallahu ‘anhu. Dia biasa membawa barang-barang kepada Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam dari badui (pedalaman) karena dia seorang badui. Apabila Zahir ingin pulang ke kampungnya, Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam mempersiapkan barang-barang yang dibutuhkan Zahir di tempat tinggalnya. Zahir ini jelek mukanya, tetapi Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam menyenanginya.

Pada suatu hari datang kepada Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam untuk menjual barang dagangannya. Diam-diam, Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam mendekapnya dari belakang. Zahir berkata, “Siapa ini? Lepaskan saya!”

Zahir lalu menoleh, ternyata ia adalah Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam. Zahir pun menempelkan punggungnya pada dada Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam, lalu Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam berkata, “Siapa yang mau membeli budak ini?”

Zahir berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, kalau begitu, niscaya engkau akan mendapatiku sebagai barang (budak) yang tidak laku dijual (karena jeleknya wajah).”

Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Akan tetapi, engkau di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan orang yang tidak laku dijual.” –atau beliau bersabda—“ Akan tetapi, engkau di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala itu mahal.” (HR. Ahmad dalam al Musnad 3/161 dan al Baghawi dalam Syarhu as Sunnah)

Di sini, di samping bercanda dengan ucapan, Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam juga bercanda dengan perbuatan.

Ini adalah sebagian contoh sendau guranya Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa Sallam. Dan perlu diketahui bahwa sendau gurau beliau adalah haq, bukan kedustaan.

At Tirmidzi Rahimahullah meriwayatkan dari jalan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, Anda mencandai kami?”

Beliau bersabda,

إِنِّي لاَ أَقُوْلُ إِلاَّ حَقًّا

“Saya tidak berkata selain kebenaran.” (Shahih Sunan at Tirmidzi no. 1990)

Seolah-olrah mereka ingin mengatakan tidak pantas bagi beliau yang membawa risalah (tugas) dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mulia kedudukannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk bercanda. Beliau pun mengatakan bahwa beliau memang bercanda, namun tidak mengatakan kecuali kebenaran. (lihat Syarhul Misykat karya ath-Thirbi, 10/3140)

Demikian juga para sabahat. Bakr bin Abdullah mengisahkan, “Dahulu para sahabat Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam (bercanda dengan) saling melempar semangka. Tetapi ketika mereka dituntut melakukan sesuatu yang serius, mereka adalah para lelaki.” (lihat Shahih al Adabul al Mufrad no. 201)

Kisah di atas menunjukkan bolehnya bercanda dengan perbuatan sebagaimana ucapan. Namunn, tidaklah seluruh waktu para sahabat habis untuk bersendau gurau. Mereka hanyalah melakukannya kadang-kadang. Dan tampaknya, mereka di sini tidak saling melempar buah semangka, namun hanya kulitnya. Wallahu ‘alam.

Bolehnya bercanda juga tidak bisa menjadi alasan untuk menjadikannya sebagai profesi (sebagai pelawak/ komedian –red). Ini adalah sebuah kekeliruan. (Fathul Bari 10/527)

Bercanda Ada Batasannya
Ada beberapa hal yang semestinya diperhatikan oleh seorang ketika bercanda, di antaranya:

Tidak bercanda dengan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hukum syariat-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Nabi Musa ‘Alaihi Salam ketika menyuruh kaumnya (bani Israil) untuk menyembelih sapi.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan Kami buah ejekan?”[62] Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil”.” (QS. Al Baqarah: 67)

Maksudnya, aku (Musa) tidaklah bercanda dalam hukum-hukum agama karena hal itu adalah perbuatan orang-orang bodoh. (Faidhul Qadir 3/18)
Tidak berdusta dalam bergurau.
Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya saya bercanda dan saya tidaklah mengatakan selain kebenaran.” (HR. Ath Thabari dalam al Kabir dari jalan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma. Asy Syaikh al Albani Rahimahullah menyatakan shahih dalam Shahih al Jami’)
Tidak menghina orang lain.
Misalnya menjelek-jelekkan warna kulit seseorang dan cacat fisiknya.
Tidak bercanda di saat seseorang dituntut untuk serius.
Sebab, hal ini bertentangan dengan adab kesopanan dan bisa jadi mengakibatkan kejelekan bagi pelakunya atau orang lain.
Tidak mencandai orang yang tidak suka dengan candaan.
Sebab, hal ini bisa menimbulkan permusuhan dan memutuskan tali persaudaraan.
Tidak tertawa terbahak-bahak.
Dahulu, tawa Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa Sallam hanyalah dengan senyuman. Rasullah Shallallhu ‘alaihi wa Sallam melarang kita sering tertawa sebagaimana sabdanya,
لاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِتُ الْقَلْبَ

“Janganlah engkau sering tertawa, karena sering tertawa akan mematikan hari.” (Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3400)

Al Imam an Nawawi Rahimahullah menerangkan, “Ketahuilah, bercanda yang dilarang adalah yang mengandung bentuk melampaui batas dan dilakukan secara terus menerus. Sebab, hal ini bisa menimbulkan tawa (yang berlebihan), kerasnya hati, melalaikan dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memikirkan hal-hal penting dalam agama. Bahkan, seringnya berujung pada menyakiti orang, menimbulkan kedengkian, dan menjatuhkan kewibawaan.

Adapun candaan yang jatuhdari ini semua, dibolehkan, seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa Sallam dahulu, namun tidak terlalu sering. Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa Sallam melakukannya untuk sebuah maslahat, yaitu menyenangkan dan menenteramkan hati orang yang diajak bicara. Yang seperti ini sunnah. (Syarah ath Thibi Rahimahullah terhadap al Misykat 10/3140)
Tidak mengacungkan/ mendorongkan senjata kepada saudaranya.
Terkadang, ada orang yang bercanda dengan mengacungkan senjatanya (pisau atau senjata api) kepada temannya. Hal ini tentu berbahaya karena bisa melukai, bahkan membunuhnya.

Sering terjadi, seseorang bermain-main menodong pistolnya kepada orang lain. Ia menyangka pistolnya kosong dari peluru, namun ternyata masih ada sehingga mengakibatkan kematian orang lain. Akhirnya dia pun menyesal karena ternyata masih tersisa padanya “peluru setan” yang mematikan. Namun, apa mau dikata, nyawa orang lain melayang karena kedunguannya.

Ini akibat menyelisihi bimbingan Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa Sallam yang bersabda, “Janganlah salah seorang kalian menunjuk kepada saudaranya dengan senjata, karena dia tidak tahu, bisa jadi setan mencabut dari tangannya, lalu dia terjerumus ke dalam neraka.” (Muttafaqun ‘alaihi dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu)

Demikian pula sabda beliau (yang arinya), “Barang siapa mengacungkan besi kepada saudaranya, para malaikat akan melaknatnya, meskipun ia saudara kandungnya.” (HR. Muslim dan at Tirmidzi dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu)

Larangan mangacungkan senjata kepada saudaranya ini bersifat umum, baik serius maupun bercanda. Sebab, makna mejadi target setan selain untuk dijerumuskan kepada kebinasaan. Dengan sedikit saja tersulut kemarahan, seseorang bisa tega membunuh saudaranya dengan senjata itu.

Adapun mengacungkan senjada kepada orang zalim menyerangnya dan akan membunuhnya, merampas hartanya, atau melukai kehormatannya, boleh bagi seseorang untuk menakut-nakutinya dengn senjata supaya terhindar dari kejahatannya. Apabila upaya manakut-nakuti ini berhasil, selesailah masalahnya. Namun, bila orang zalim itu tetap menyerang, ia boleh melakukan perlawanan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“Barangsiapa yang menyerang kamu, Maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 194)

Tidaklah Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam melarang kita dari bercanda dengan senjata kecuali karena khawatir dari (godaan) setan kepada orang yang beriman. Setan telah mengarahkan perangkapnya kepada orang yang beriman agar terjerumus dalam perkara yang menyeretnya kepada neraka dan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Demi menutup jalan yang berbahaya ini, kita dilarang bercanda yang bisa menimbulkan kejelekan dan menakut-nakuti muslimin atau bahkan mengakibatkan hilangnya nyawa.

Betapa banyak petaka yang kita saksikan candaan yang seperti ini. Misalnya, seseorang bercanda dengan berteriak keras di belakang punggung saudaranya yang sedang santau atau di sisi telinganya sehingga dia terkejut.

Semisal ini pula adalah mengejutkan seseorang dengan memnutahkan peluru di atas kepada saudaranya untuk menakut-nakuti. Demikian pula mengejutkan orang dengan membunyikan klakson mobil sehingga berdebar-debar jantungnya dan hampir copot. Ada juga mainan ular-ularan yang mirip ular sungguhan yang dilemparkan kepada orang lain yang tidak mengetahuinya. Ia sangka itu ular sungguhan sehingga terkejut dan takut tidak kepalang. Sungguh, candaan yang tersebut di atas dan semisalnya telah banyak menyisakan kepiluan dan trauma yang mendalam.” (lihat Ishalahul Mujtama’ hlm. 36-37)
Mengambil harta orang lain dengan bercanda.
Tidak dibenarkan menurut agama bercanda dengan mengambil harga atau barang milik saudaranya, lalu dia menyembunyikan di suatu tempat. Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
لاَ يَلْخُذَنَّ أَحَدَكُمْ مَتَاعَ صَاحِبِهِ لاَعِبًا وَ لاَ جَادًّا وَ إِنْ أَخَذَ عَصَا صَحِبُهِ فَلْيَرُدَّهَا عَلَيْهِ

“Janganlah salah seorang kalian mengambil barang temannya (baik) bermain-main maupun serius. Meskipun ia mengambil tongkat temannya, hendaknya ia kembalikan kepadanya. “(HR. Ahmad, Abu Dawud, at Tirmidzi, dan al Hakim). Asy Syaikh al Albani Rahimahullah menyatakan hasan dalam Shahil al Jami’)

Sisi dilarangnya mengambil barang saudaranya secara serius itu jelas, yiatu ia adlaah bentuk pencurian. Adapun larangan mengambil barang orang lain dengan bergurau karena hal itu memang tidak ada manfaatnya, bahkan terkadang menjadi sebab timbulnya kejengkelan dan tersakitinya pemilik barang tersebut. (Aunul Ma’bud 13/346-347)
Tidak menakut-nakuti di jalan kaum muslimin.
Menciptakan ketenangan di tengah-tengah masyarakat adalah hal yang dituntut dari setiap individu. Tetapi, karena kebodohan dan jauhnya manusia dari bimbingan agama, masih saja didapati orang-orang yang iseng dan bergurau dengan menakut-nakuti di jalan yang biasa dilalui oleh orang.

Bentuk menakut-nakutinya beragam. Ada yang modusnya dengan penampakan bentuk yang menakutkan, seperti pocongan atau suara-suara yang mengerikan terutama di jalan-jalan yang gelap. Model bercanda seperti ini sungguh keterlaluan karena bisa menyisakan trauma seseorang dari keperluannya, terhalanginya seseorang dari masjid dan majelis-majelis kebaikan. Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, lihat Shahihul Jami’ no 7659)
Berdusta untuk menimbulkan tawa.
Apabila seseorang bercanda dengan kedustaan, ia telah keluar dari batasan mubah (boleh) kepada keharaman. Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
وَيْلُ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلُ لَهُ وَيْلُ لَهُ

“Celakalah orang yang bercerita lalu berdusta untuk membuat tawa manusia, celakalah ia, celakalah ia.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at Tirmidzi dan al Hakim dari Mu’awiyah bin Haidah Radhiyallahu ‘anhu. Asy Syaikh al Albani Rahimahullah menyatakannya hasan dalam Shahih al Jami’)

Ia celaka karena dusta sendiri adalah pokok segala kejelekan dan cela, sehingga apabila digabungkan dengan hal yang mengundang tawa yang bisa mematikan hati, mendatangkan kelalaian, dan menyebabkan kedunguan, tentu hal ini lebih buruh. (Faidhul Qadir 6/477)
Akhirnya kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diberi taufik dan bimbingan Nya untuk selalu lurus dalam berbuat dan berkata-kata.

(Sumber: Bercanda Ada Etikanya, Asy Syariah No. 89/VIII/1434 H/2012 hlm. 70-74, 88)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s