Matahari Terbit Di Kampung Laut ” Sepenggal Kisah Perjalanan Dakwah” (Bagian 2)

perahu-nelayan-penduduk-desa

Kegembiraan para da`i Ponpes An Nur Al Atsary semakin bertambah, ketika dua orang stasi (tangan kanan) pendeta sekte Bethel dan Advent datang ke Ponpes An Nur Al Atsary untuk masuk Islam. Dua orang ini mengutarakan bahwa keduanya telah dijadikan para pendeta untuk “ menjaring domba-domba tuhan “ (pen : ini adalah ungkapan para pendeta ketika melakukan program kristenisasi). Selama menjalankan misi tersebut keduanya telah berhasil mengkristenkan sekitar 160 orang dan telah membangun sekitar lima gereja di wilayah kampung laut.

Sebab pertama yang membuat mereka berkeinginan untuk keluar dari agama Kristen adalah kecurangan para pendeta kepada mereka berdua dan kepada umatnya.  Ketika keduanya bekerja keras mewujudkan keinginan pendeta, namun ketika ada bantuan materi yang seharusnya mereka terima ternyata “ dimakan” oleh para pendeta, dan  ketika mereka diminta oleh sang pendeta utuk mengajukan proposal pengadaan mobil operasional, setelah mobil tersebut turun ternyata mobil tersebut dipakai sendiri untuk kepentingan pendeta, tapi sang stasi (tangan kanan pendeta) hanya diberikan sepeda untuk operasionalnya.

Ketika jamaah Kristen ada keperluan untuk menghadiri sebuah acara mereka di perintahkan oleh pendeta untuk iuran, agar bisa menyewa sebuah mobil, dan  hal ini sering mereka alami. Kemudian mereka mengutarakan bahwa ketika  melihat adanya sekelompok ummat Islam yang sedang berdakwah di kampung laut dan berhasil mengembalikan sejumlah warga yang murtad menjadi Islam kembali, mulailah mereka berfikir untuk masuk Islam. Karena mereka melihat adanya persaudaraan (ukhuwah) hakiki antar para muallaf dengan sekelompok yang berdakwah tersebut, yang mana hal ini tidak mereka dapatkan di agama Kristen.

Akhirnya mereka pun memberanikan diri untuk datang, dan pada waktu itulah mereka paham bahwa perbedaan Agama Islam dengan Kristen bukan hanya dalam hal persaudaraan namun juga  dalam  prinsip ketuhanan. Setelah prosesi masuk Islam selesai mereka berdua menyatakan, “ Sekarang saya tahu siapa itu Tuhan”. Alhamdulillah, kini mereka paham bahwa Robbul Alamin adalah Dzat yang Maha Esa, tidak memiliki anak dan satu-satunya Dzat yang berhak untuk  diibadahi, adapun selain-Nya adalah makhluk tidak pantas diibadahi.  Mereka berdua pun bertekad untuk mendakwahi orang-orang yang dulu mereka murtadkan, Alhamdulillah melalui dua orang tersebut sudah ada beberapa orang yang kembali ke islam. Semoga Allah mengokohkan keislaman mereka dan menolong perjuangan mereka.

Terkadang kisah lucu yang mengundang tawa muncul dari tingkah laku para muallaf, sebagaimana yang pernah terjadi ketika serombongan warga kampung laut datang ke Ponpes an Nur Al-Atsary  dengan maksud untuk masuk Islam. Setelah mendapatkan wejangan dan bimbingan  tentang Agama Islam mereka pun bersyahadat, kemudian mandi. Pada saat masuk waktu sholat mereka pun hadir dalam barisan jamaah sholat, dan ternyata mereka betul-betul belum tahu tentang tata cara sholat. Sehingga ketika sholat pandangan mereka tidak lepas dari gerakan jamaah yang lain dan mereka ikuti semua gerakannya. Ketika sujud mereka pun ikut sujud,lalu ketika jamaah bangkit dari sujud.

Sebagian mereka ikut bangkit namun sebagian lagi tetap dalam posisi sujud, maka salah satu muallaf yang bangkit dari sujud mencoba mengingatkan temannya yang tetap sujud, sambil menedang –nendang dengan kakinya ia berkata, “ kang….kang….tangi ! kang…kang …..tangi ! liane uis podo menyat “ (kang….kang…bangun! kang..kang ..bangun! yang lain sudah berdiri). Tentu saja kejadian ini membuat jamaah yang ada di samping mereka harus menahan tawa karena sedang sholat, seandainya tidak sedang sholat niscaya ia akan tertawa terbahak-bahak, sebagaimana hal ini dituturkan oleh Pak Ade Muslih, salah seorang jamaah sholat yang waktu kejadian tersebut ada disamping mereka.

Bimbingan terus menerus dilakukan, hal ini memang dibutuhkan oleh para muallaf. Kebanyakan dari mereka belum mengetahui perkara-perkara mendasar dalam Islam, apakah Aqidah, Akhlaq, ataupun Fiqh. Sampai-sampai tata cara wudlu dan sholat pun banyak yang belum mengetahuinya. Sampai-sampai ada yang melaksanakan sholat sambil dia membaca buku tata cara sholat di tangannya.  Alhamdulillah saat ini, telah berjalan pengajian rutin untuk mereka selain khutbah dan sholat Jum`at. Para muallaf yang berada di daerah Solok jero mereka bisa mengikuti pengajian setiap hari jumat setelah sholat Jum`at di masjid Al-Muwahidin Solok Jero.

Untuk para Muallaf yang berada di Desa Ujung gagak (karang Anyar) bisa mengikuti kajian rutin setiap malam Jum`at di masjid Al barokah Ujung Gagak. Semangat mereka dalam tholabul Ilmi mulai nampak, segaimana hal ini terlihat ketika diadakan pengajian, mereka antusias untuk hadir dalam acara tersebut sampai bisa memenuhi masjid dan semangat ibu-ibu petani Solok Jero dalam menimba ilmu Agama tidak kalah dengan para suaminya. Setiap hari Jum`at setelah selesai sholat Jumat mereka turun dari bukit-bukit berjalan kaki sambil membawa buku tulis dan pena menuju masjid untuk mengikuti pengajian rutin.

Pada awalnya, banyak dari mereka yang tidak memggunakan kerudung. Namun sekarang, Alhamdulillah  mereka sudah terbiasa mengenakan pakaian muslimah yang lebar-lebar. Pak  Hasan Makarim salah seorang Tokoh MUI Cilacap ketika kunjungannya ke Kampung Laut dan melihat ibu-ibu petani Solok Jero, merasa Takjub dengan semangat mereka dalam mengenakan pakaian muslimah bahkan merasa tidak percaya kalau yang dilihatnya itu adalah muallaf.  Bahkan pernah suatu ketika seorang da`i ponpes an Nur Al Atsary memberikan pengajian bagi ibu-ibu petani di Solok Jero,ia  sempat kaget ketika salah seorang ibu –ibu petani sudah ada yang berani mengenakan pakaian hitam lengkap dengan cadarnya.

Dan Sekarang sebagian ibu-ibu petani belajar agama Islam secara rutin setiap bada Sholat maghrib kepada seorang istri kader da`i yang ditempatkan di masjid Solok jero. Saat menjelang waktu maghrib  terlihatlah ibu-ibu petani tersebut turun dari pebukitan dengan mengenakan mukena putih dan membawa lampu obor menuju masjid. Mereka pun ikut mengerjakan sholat maghrib berjamaah, kemudian belajar hingga waktu sholat Isya. Setelah sholat isya mereka kembali ke ke rumahnya masing-masing. Sebuah Pemandangan yang sudah sangat jarang ditemukan, ternyata tinggal di hutan pun tidak menghalangi  seseorang untuk menuntut ilmu agama.

Alhamdulillah, kesadaran orang tua untuk menanamkan Ilmu agama Islam bagi anak-anak pun mulai muncul di hati masyarakat kampung laut. Saat ini, sebagian anak-anak petani mengikuti program belajar khusus bagi anak-anak yang diadakan di masjid Solok Jero dari pagi hari hingga sore hari, bahkan sekitar empat anak petani telah dikirimmkan ke Ponpes An Nur Al Atsary Ciamis untuk belajar Ilmu agama, dan beberapa Ahlu Sunnah di daerah lain segera menyambut berita gembira ini. mereka menyatakan kesedian untuk menanggung biaya anak-anak tersebut selama belajar di Pesantren.

Pendidikan Agama Islam untuk putera puteri Kampung laut memang sangat penting karena Insya Allah Ta`ala merekalah yang akan menjadi penerus Dakwah Tauhid di kampung halamannya. Oleh karena itu kesempatan belajar harus dibuka lebar-lebar untuk mereka , terlebih jika mengingat para misionaris Kristen yang gencar membuka program bea siswa bagi putera-puteri kampung laut untuk disekolahkan di lembaga-lembaga pendidikan mereka seperti Yos Sudarso, Akademi Maritim Nusantara, dan yang lainnya.

`Izzatul Islam (kemulyaan Islam) mulai dirasakan oleh masyarakat Kampung Laut. Hal ini nampak ketika pada tanggal 21 April 2012 lalu, diadakanlah acara Tabligh akbar di Desa Ujung Gagak (karang Anyar) Kecamatan Kampung laut dengan tema “ Menggapai kebahagiaan Dengan Islam” dan sebagai pematerinya adalah Al ustadz Muhammad Umar As Sewwed –hafidzahullah-. Acara ini dihadiri oleh Tokoh MUI Cilacap Pak Hasan Makarim, Kepala Kecamatan Kampung laut, Kapolsek Kawunganten, dan beberapa orang anggota Marinir. Suatu hal yang luar biasa, acara ini dihadiri oleh sekitar 1500 peserta yang berasal dari luar Kecamatan kampung laut selain peserta yang berasal dari kampung laut.

Lebih dari 30 perahu yang digunakan para peserta Tabligh akbar bersandar di dermaga Ujung Gagak, sehingga sebagian nelayan menahan keberangkatannya ke laut karena merasa takjub dengan pemandangan yang baru terjadi ini. Selama hidup di Kampung laut mereka baru melihat sekitar 1500 orang hadir dalam sebuah Tabligh Akbar dalam keadaan berpakaian jubah dan gamis. Tanpa sadar salah seorang penduduk berseloroh ,” akeh banget…..” (banyak sekali…). Setelah acara selesai banyak penduduk yang mencari pakain Jubah dan gamis, mereka merasa senang dan ingin meniru para tamu peserta yang kemarin hadir di acara Tabligh Akbar. Mudah-mudahan pakaian tersebut menjadi sebuah model yang terus mereka cintai.

Laa haula wa laa quwwata illa billah, tidak ada upaya dan kekuatan kecuali dengan kehendak Allah, itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan segala apa yang telah diperoleh Ahlu Sunnah ketika berdakwah di kampung laut. Puji dan Syukur hanya bagi Allah Rabbul Alamin yang telah memilih sebagian hambanya untuk menjadi sebab terbukanya pintu hidayah dan kebaikan bagi suatu kaum yang dianggap lemah dan tak berharga. Hal ini adalah sesuatu yang sangat berharga jauh lebih berharga dari kekayaan yang mewah , sebagaimana sabda Rasululloh –Shalallahu alaihi wa sallam- bahwa jika Allah memberikan hidayah kepada seseorang dengan sebab dirimu, maka hal itu lebih baik dari pada onta-onta merah (kendaraan yang paling mewah).  Kini saatnya bagi Ahlus sunnah untuk bergandeng tangan merapatkan barisan menyusun langkah yang pasti untuk mengibarkan panji Dakwah Tauhid menyongsong  kemenangan yang Allah janjikan. Sungguh wajah-wajah bercahaya yang merindukan Islam kini mulai muncul, bagaikanMatahari Terbit Di kampung laut .

Wahai Ahlus Sunnah ! Siapa lagi yang paling pantas  berbelas kasih kepada manusia kalau bukan kalian ?! Dunia dan keindahannya jangan sampai memperdaya kalian, semua itu akan sirna, namun akan tetaplah amalan sholih menyertai hingga kalian berjumpa dengan Robbul `Alamin……………..

( Abu Jundi;  ma’had An- Nuur Al- Atsaty Ciamis )

Sumber :  http://www.salafy.or.id/matahari-terbit-di-kampung-laut-sepenggal-kisah-perjalanan-dakwah-bagian-2/

Matahari Terbit Di Kampung Laut ” Sepenggal Kisah Perjalanan Dakwah” (Bagian 1)

desa-ujunggagak

 

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, waktu berjalan demikian cepat. Tidak terasa satu tahun lebih telah berlalu menjalani dakwah tauhid di kampung Laut. Ketegangan, kesulitan, senyuman, dan tangisan semuanya teralami ketika mengibarkan panji dakwah tauhid di daerah ini. Semula tatapan pesimis muncul dari sebagian kaum muslimin yang mendengar bahwa Ahlus sunnah mulai melangkahkan kaki untuk berdakwah di daerah ini. Mereka merasa tidak percaya diri kalau masyarakat Kampung laut yang terkenal dengan kehidupan keras , amoral, bodoh, dan miskin mau menerima dakwah tauhid. Karena dahulu pernah ada beberapa ormas yang berupaya mencurahkan dakwah Islam dengan menjalankan berbagai program sosial dan pembangunan masjid namun hasilnya jauh dari yang mereka harapkan. Sehingga ungkapan keputusasaan muncul dari mereka.

Allah Rabbul `Alamin adalah Dzat yang Maha Berkehendak. Namun, ketika Allah menghendaki suatu kaum untuk mendapatkan Hidayah-Nya, maka tidak ada satu orang pun yang bisa menghalanginya. Demikian pula jika menghendaki kesesatan suatu kaum, maka tidak ada seorang pun yang menghalanginya. Alhamdulillahilladzi bi ni`matihi tatimmu Ash Sholihat, segala puji bagi Allah yang mana dengan Nikmat-Nya menjadi sempurnalah berbagai amalan shalih. Berbekal tawakkal, do`a dan semangat menteladani generasi salaf dalam berdakwah, Ahlus Sunnah yang berada di sekitar Ponpes An Nur Al-Atsary Ciamis terjun untuk mempelopori dalam mengkibarkan panji dakwah tauhid di Kampung Laut dengan sebuah harapan besar bahwa hal ini akan menjadi sebab Hidayah dan Ukhuwah bagi masyarakat Kampung laut juga bagi Ahlu Sunnah yang ada di berbagai daerah.

Sampai saat ini, kita melihat adanya tanda-tanda dikabulkannya do`a dan harapan tersebut oleh Allah Ta`ala, karena dengan sebab dakwah ini sekitar 100 orang masyarakat kampung laut telah kembali masuk Islam, setelah sebelumnya murtad mengikuti seruan misionaris Kristen. Selain itu, masjid-masjid jami di wilayah tersebut meminta untuk dikunjungi dan diadakan pembinaan rutin, dan Ahlus Sunnah yang ada di berbagai daerah kini mulai bangkit untuk sama-sama berta`awun. Semua ini menunjukan adanya respon baik yang bisa dijadikan sebagai suatu kekuatan dan peluang untuk melanjutkan dakwah tauhid yang mulia ini. Rasa penat dan letih yang terkadang muncul ketika menjalani dakwah ini, namun rasa tak terasa hilang begitu saja ketika mendengar ucapan Syahadat yang keluar dari lisan seorang muallaf. Betapa tidak sebelumnya ia adalah seorang yang murtad kemudian memusuhi dakwah tauhid.

Pernah suatu ketika rombongan da`i dari Ponpes An Nur Al Atsary mengunjungi sebuah lokasi wakaf di Desa Ujung Gagak yang telah direncanakan untuk dilakukan pembangun masjid di atasnya, namun pihak misionaris kristen mendahuluinya dengan membangun sebuah gereja tepat di samping tanah tersebut. Ketika bangunan gereja itu diambil gambarnya maka tiba-tiba ada seorang lelaki hitam berbadan kekar dengan bertelanjang dada berlari menghampiri. Kemudian membentak rombongan da`i tersebut, belakangan diketahui bahwa lelaki itu adalah seoarang yang murtad dan menjadi pendukung utama para misionaris Kristen. Namun sungguh tidak disangka, berapa waktu kemudian lelaki itu datang ke Ponpes an Nur Al Atsary ditemani beberapa orang masyarakat Kampung Laut lainnya untuk menyatakan keislaman, Alhamdulillah. Rasa haru pun kerap hadir, ketika melihat beberapa orang yang menyatakan bahwa dirinya ingin bertaubat dari segala perbuatan dosa yang ia sering lakukan kemudian ia menjalaninya dengan jatuh bangun sementara kondisi lingkungan belum mendukung keinginannya.

Teringatlah seorang pemuda Karang Anyar yang mana masyarakat telah mengenalnya sebagai “ jagoan” yang ditakuti, hampir setiap hari miras ditenggaknya. Pada suatu hari ia dan sekitar sepuluh orang teman-temanya yang “ se-profesi” datang ke Ponpes An Nur Al Atsary bersama dengan orang yang mau masuk Islam. Para pemuda “ singa-singa kampung Laut” yang berwajah garang tersebut menyatakan bahwa mereka masih beragama Islam namun ingin bertaubat dan ingin memperbaiki jalan hidupnya, maka mereka pun mendapatkan wejangan dan bimbingan dari asatidz Ponpes An Nur Al Atsary. Kemudian setelah berbicara banyak hal yang menunjukan adanya keinginan baik mereka pun pamit untuk pulang. Beberapa waktu kemudian, serombongan da`i dari Ponpes An Nur Al-Atsary berkunjung ke Karang anyar setelah selesai berdakwah di daerah Ujung Alang.

Ketika sedang berjalan di jalan kampung menuju rumah sebuah penduduk, rombongan da`i tersebut melihat salah seorang “ singa Kampung Laut” yang pernah datang ke Ponpes an Nur Al Atsary dalam keadaan sedang berjalan limbung, maka dugaan pun muncul bahwa ia sedang mabuk karena miras. Ketika ia melihat ke rombongan, ia segera berlari dengan sempoyongan menuju rombongan da`i. Melihat kejadian ini beberapa anak kecil yang sedang bermain di depan rumahnya segera berhamburan karena ketakutan, khawatir jika pemuda itu mau mengamuk. Namun setelah sampai di hadapan rombongan ia pun mengucapkan salam dan mengacung-acungkan kedua tangannya ke atas kepala sambil berkata, “ maaf ustadz…..maaf ustadz….”. Ucapan ini terus ia ulang-ulang sambil mengawal rombongan da`i menuju sebuah rumah penduduk, bahkan ketika rombongan berjalan kea rah dermaga untuk pulang ia tetap bersikeras untuk mengawal, walaupun keadaannya sempoyongan.

Karena sudah masuk waktu Maghrib rombongan memutuskan untuk sholat di sebuah mushola yang ada di sana, pemuda itu pun berinisiatif mencarikan tempat yang bisa dijadikan untuk berwudlu. Ia berlari ke pinggiran dermaga lalu mendorong beberapa perahu yang sedang bersandar lalu ia ia bersihkan sampah-sampah di tepian sungai tersebut, kemudian ia berkata, “ silahkan wudlu Ustadz…..!”, rasa takjub dan haru pun belum berhenti sampai disana, ternyata ia memaksakan diri untuk ikut sholat bersama rombongan, ia belum memahami kalau orang yang mabuk tidak boleh mendekati sholat, ternyata ia mengikuti sholat maghrib berjama’ah sampai selesai. Ketika rombongan sedang menjama Sholat isya, pemuda itu pun mulai kelihatan tidak bisa mengalahkan rasa mabuknya, akhirnya ia pun jatuh terbanting ke belakang kemudian tergeletak tak sadarkan diri.

Di saat rombongan bersiap-siap pulang salah seorang warga membangunkannya dan mengatakan kalau rombongan para ustadz akan pulang, ternyata di luar dugaan ia tiba-tiba bangkit dan memaksakan diri untuk mengantar rombongan menuju perahu yang bersandar di dermaga. Kemudian ia memegang perahu tersebut supaya rombongan bisa naik ke atasnya. Tidak lama setelah rombongan mengucapkan salam kepadanya, perahu pun laju meninggalkan pemuda tersebut yang melambaikan tangannya. Rombongan da`i pun merasa takjub dan terharu dengan kejadian tersebut, mereka menyadari bahwa sebenarnya telah muncul kecintaan dan keinginan baik dari pemuda tersebut, namun apa daya ia belum bisa mengalahkan lingkungan dan pertemanan jelek yang ada di sekitarnya. Alhamdulillah, kini pemuda tersebut sering terlihat hadir di masjid mengerjakan sholat Jumat.

Bahkan ketika acara Tabligh Akbar yang diadakan di Karang Anyar pada tanggal 21 April 2012 lalu, pemuda tersebut mengenakan pakaian gamis panjang, dan di dadanya tersemat tanda panita tabligh akbar. Hidayah Taufiq benar-benar ada di tangan Allah Ta`ala,kegembiraan yang tiada terhingga akan dirasakan oleh para da`i jika melihat orang yang didakwahinya dengan idzin Allah Ta`ala menyambut dan menerima dakwah tersebut. Demikianlah yang dirasakan ketika para da`i Ponpes An Nur Al-Atsary melakukan gebrakan awal untuk masuk ke Solok Jero sebuah daerah terpencil di wilayah kampung laut yang berbatasan dengan pulau Nusakambangan Bara. disanalah para Misionaris sekte Bethel dan Advent telah berhasil memurtadkan sekitar 40 kk petani. Bertemulah ketika itu dengan salah seorang koordinator kelompok petani yang berada di sana. Pembicaraan pun terjadi, dia menanyakan maksud rombongan Ponpes An Nur al Atsary masuk ke daerah tersebut dengan membawa tiga ekor kambing dan sejumlah bahan bangunan, dijelaskanlah kepadanya bahwa tiga ekor kambing itu adalah hewan qurban yang akan disembelih dan dibagikan kepada para petani muslim disana, kemudian bahan bangunan tersebut adalah untuk membantu para petani memperluas mushola mereka yang sangat kecil.

Orang tersebut pun paham dan merasa senang dengan kedatangan rombongan. Satu hal yang membuat rombongan Ponpes an Nur Al Atsary merasa heran. Ketika itu orang tersebut mengaku beragama Islam namun beberapa ucapanya persis ucapan kaum nashrani, seperti kalimat-kalimat “ puji tuhan” dan “ rumah tuhan” sering ia tuturkan. Ternyata dikemudian hari dia mengaku kalau ia sering diundang oleh Romo Carolus ke Cilacap dengan alasan rapat kerja namun sebelumnya ia diajak untuk mengikuti acara ritual mereka.

Kemudian Setelah dakwah Tauhid digencarkan di daerah Solok Jero, orang tersebut sering menghadiri sholat Jumat dan mengikuti pengajian-pengajian yang diadakan di masjid. Secara perlahan perubahan pun terjadi pada dirinya. Alhamdulillah, saat ini orang tersebut terlihat sering mengenakan pakaian gamis, memelihara jenggot dan senang beraktivitas di masjid,bahkan ketika ia sempat mengirimkan sms kepada salah seorang da`i Ponpes An Nur Al Atsary ia katakan, “ Alhamdulillah, Semoga Kehadiran beliau Ustadz Muhammad banyak ilmu yang nanti ana timba, karena tentang ilmu agama, jujur ana masih awam.” Subhanallah, jauh sekali ucapannya tersebut dengan ucapan ketika pertama kali bertemu.

( Abu Jundi;  ma’had An- Nuur Al- Atsaty Ciamis)

 

sumber: http://www.salafy.or.id/matahari-terbit-di-kampung-laut-sepenggal-kisah-perjalanan-dakwah-bagian-1/

Etika Bercanda Menurut Al Qur’an dan As Sunnah

download (2)

Oleh al Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc

Bercanda atau bersendau gurau adalah salah satu bumbu dalam pergaulan di tengah-tengah masyarakat. Ia terkadang diperlukan untuk menghilangkan kejenuhan dan menciptakan keakraban, namun tentunya bila disajikan dengan bagus sesuai denga porsinya dan melihat kondisi yang ada. Sebab, setiap tempat dan suasana memang ada bahasa yang tepat untuk diutarakan. Khalil bin Ahmad berkata, “Manusia dalam penjara (terkekang) apabila tidak saling bercanda.”

Pada suatu hari, al Imam asy Sya’bi Rahimahullah bercanda, maka ada orang yang menegurnya dengan mengatakan, “Wahai Abu ‘Amr (kuniah al Imam asy Sya’bi, -red), apakah kamu bercanda?”

Beliau menjawab, “Seandainya tidak seperti ini, kita akan mati karena bersedih.” (al Adab asy Syar’iyah, 2/214)

Namun, jika sendau gurau ini tidak dikemas dengan baik dan menabrak norma-norma agama, bisa jadi akan memunculkan bibit permusuhan, sakit hati dan trauma berkepanjangan.

Pada dasarnya, bercanda hukumnya boleh, asalkan tidak keluar dari batasan-batasan syariat. Sebab, Islam tidak melarang sesuatu yang bermanfaat dan dibutuhkan oleh manusia sebagaimana Islam melarang hal-hal yang membahayakan dan tidak diperlukan oleh manusia. Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Bergaullah kamu dengan manusia (namun) agamamu jangan kamu lukai.” (Shahih al Bukhari, Kitabul Adab)

Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa Sallam dan Para Sahabat Berancada
Manakala kita membuka kembali lembaran sejarah Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam. Kita akan mendapati bahwa beliau adalah sosok yang bijak dan ramah dalam pergaulan. Beliau bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya dan mendudukkan orang sesuai kedudukannya. Beliau berbaur dengan sahabat dan bercanda dengan mereka.

Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam bergaul (dekat) dengan kita. Sampai-sampai beliau mengatakan kepada adikku yang masih kecil, ‘Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan oleh an Nughair?’,” (Shahih al Bukhari no. 6129)

An Nughair adalah burung kecil sebangsa burung pipit. Alkisah, Abu Umari ini dahulu bermain-main dengan burung kecil miliknya. Pada suatu hari burung itu mati dan bersedihlah dia karenanya. Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam yang mengetahui hal itu mencandainya agar tenteram hatinya dan hilang kesedihannya. Mahabenar Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika berfirman,

وَ إِنَّكَ لَعَلىٰ خُلُقٍ عَظِيْمِ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (al Qalam: 4)

Memang, Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa Sallam sangat dekat dengan para sahabatnya sehingga tahu persis kebutuhan dan problem yang mereka hadapi, kemudian beliau membantu mencarikan jalan keluarnya.

Masih kaitannya dengan sendau gurau Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa Sallam, ada beberapa riwayat yang diabadikan oleh ulama hadits, diantaranya,

Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Sungguh, ada seorang lelaki meminta kepada Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam sebuah kendaraan untuk dinaiki. Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam mengatakan, ‘Aku akan memberimu kendaraan berupa anak unta.’ Orang itu (heran) lalu berkata, ‘Apa yang bisa saya perbuat dengan anak unta itu?’ Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam bersabda, ‘Bukankah unta betina itu tidak melahirkan selian unta (juga)?’.” (HR. Abu Dawud dan at Tirmidzi, dinyatakan shahih oleh asy Syaikh al Albani Rahimahullah dalam al Misykat no. 4886)

Orang ini menyangka bahwa yang namanya anak unta mesti kecil, padahal kalau berpikir, dia tidak akan menyangka seperti itu, karena unta yang dewasa juga anak dari seekor unta.

Dalam hadits ini, di samping mencadai orang tersebut, Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa Sallam juga memberi bimbingan kepadanya dan yang lainnya orang yang mencermati lebih dahulu dan tidak langsung membantahnya, kecuali setelah tahu secara mendalam maksudnya (Tuhfatul Ahwadzi 6/128)
Dahulu, ada seorang sahabat bernama Zahir bin Haram Radhiyallahu ‘anhu. Dia biasa membawa barang-barang kepada Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam dari badui (pedalaman) karena dia seorang badui. Apabila Zahir ingin pulang ke kampungnya, Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam mempersiapkan barang-barang yang dibutuhkan Zahir di tempat tinggalnya. Zahir ini jelek mukanya, tetapi Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam menyenanginya.

Pada suatu hari datang kepada Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam untuk menjual barang dagangannya. Diam-diam, Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam mendekapnya dari belakang. Zahir berkata, “Siapa ini? Lepaskan saya!”

Zahir lalu menoleh, ternyata ia adalah Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam. Zahir pun menempelkan punggungnya pada dada Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam, lalu Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam berkata, “Siapa yang mau membeli budak ini?”

Zahir berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, kalau begitu, niscaya engkau akan mendapatiku sebagai barang (budak) yang tidak laku dijual (karena jeleknya wajah).”

Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Akan tetapi, engkau di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan orang yang tidak laku dijual.” –atau beliau bersabda—“ Akan tetapi, engkau di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala itu mahal.” (HR. Ahmad dalam al Musnad 3/161 dan al Baghawi dalam Syarhu as Sunnah)

Di sini, di samping bercanda dengan ucapan, Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam juga bercanda dengan perbuatan.

Ini adalah sebagian contoh sendau guranya Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa Sallam. Dan perlu diketahui bahwa sendau gurau beliau adalah haq, bukan kedustaan.

At Tirmidzi Rahimahullah meriwayatkan dari jalan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, Anda mencandai kami?”

Beliau bersabda,

إِنِّي لاَ أَقُوْلُ إِلاَّ حَقًّا

“Saya tidak berkata selain kebenaran.” (Shahih Sunan at Tirmidzi no. 1990)

Seolah-olrah mereka ingin mengatakan tidak pantas bagi beliau yang membawa risalah (tugas) dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mulia kedudukannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk bercanda. Beliau pun mengatakan bahwa beliau memang bercanda, namun tidak mengatakan kecuali kebenaran. (lihat Syarhul Misykat karya ath-Thirbi, 10/3140)

Demikian juga para sabahat. Bakr bin Abdullah mengisahkan, “Dahulu para sahabat Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam (bercanda dengan) saling melempar semangka. Tetapi ketika mereka dituntut melakukan sesuatu yang serius, mereka adalah para lelaki.” (lihat Shahih al Adabul al Mufrad no. 201)

Kisah di atas menunjukkan bolehnya bercanda dengan perbuatan sebagaimana ucapan. Namunn, tidaklah seluruh waktu para sahabat habis untuk bersendau gurau. Mereka hanyalah melakukannya kadang-kadang. Dan tampaknya, mereka di sini tidak saling melempar buah semangka, namun hanya kulitnya. Wallahu ‘alam.

Bolehnya bercanda juga tidak bisa menjadi alasan untuk menjadikannya sebagai profesi (sebagai pelawak/ komedian –red). Ini adalah sebuah kekeliruan. (Fathul Bari 10/527)

Bercanda Ada Batasannya
Ada beberapa hal yang semestinya diperhatikan oleh seorang ketika bercanda, di antaranya:

Tidak bercanda dengan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hukum syariat-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Nabi Musa ‘Alaihi Salam ketika menyuruh kaumnya (bani Israil) untuk menyembelih sapi.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan Kami buah ejekan?”[62] Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil”.” (QS. Al Baqarah: 67)

Maksudnya, aku (Musa) tidaklah bercanda dalam hukum-hukum agama karena hal itu adalah perbuatan orang-orang bodoh. (Faidhul Qadir 3/18)
Tidak berdusta dalam bergurau.
Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya saya bercanda dan saya tidaklah mengatakan selain kebenaran.” (HR. Ath Thabari dalam al Kabir dari jalan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma. Asy Syaikh al Albani Rahimahullah menyatakan shahih dalam Shahih al Jami’)
Tidak menghina orang lain.
Misalnya menjelek-jelekkan warna kulit seseorang dan cacat fisiknya.
Tidak bercanda di saat seseorang dituntut untuk serius.
Sebab, hal ini bertentangan dengan adab kesopanan dan bisa jadi mengakibatkan kejelekan bagi pelakunya atau orang lain.
Tidak mencandai orang yang tidak suka dengan candaan.
Sebab, hal ini bisa menimbulkan permusuhan dan memutuskan tali persaudaraan.
Tidak tertawa terbahak-bahak.
Dahulu, tawa Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa Sallam hanyalah dengan senyuman. Rasullah Shallallhu ‘alaihi wa Sallam melarang kita sering tertawa sebagaimana sabdanya,
لاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِتُ الْقَلْبَ

“Janganlah engkau sering tertawa, karena sering tertawa akan mematikan hari.” (Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3400)

Al Imam an Nawawi Rahimahullah menerangkan, “Ketahuilah, bercanda yang dilarang adalah yang mengandung bentuk melampaui batas dan dilakukan secara terus menerus. Sebab, hal ini bisa menimbulkan tawa (yang berlebihan), kerasnya hati, melalaikan dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memikirkan hal-hal penting dalam agama. Bahkan, seringnya berujung pada menyakiti orang, menimbulkan kedengkian, dan menjatuhkan kewibawaan.

Adapun candaan yang jatuhdari ini semua, dibolehkan, seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa Sallam dahulu, namun tidak terlalu sering. Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa Sallam melakukannya untuk sebuah maslahat, yaitu menyenangkan dan menenteramkan hati orang yang diajak bicara. Yang seperti ini sunnah. (Syarah ath Thibi Rahimahullah terhadap al Misykat 10/3140)
Tidak mengacungkan/ mendorongkan senjata kepada saudaranya.
Terkadang, ada orang yang bercanda dengan mengacungkan senjatanya (pisau atau senjata api) kepada temannya. Hal ini tentu berbahaya karena bisa melukai, bahkan membunuhnya.

Sering terjadi, seseorang bermain-main menodong pistolnya kepada orang lain. Ia menyangka pistolnya kosong dari peluru, namun ternyata masih ada sehingga mengakibatkan kematian orang lain. Akhirnya dia pun menyesal karena ternyata masih tersisa padanya “peluru setan” yang mematikan. Namun, apa mau dikata, nyawa orang lain melayang karena kedunguannya.

Ini akibat menyelisihi bimbingan Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa Sallam yang bersabda, “Janganlah salah seorang kalian menunjuk kepada saudaranya dengan senjata, karena dia tidak tahu, bisa jadi setan mencabut dari tangannya, lalu dia terjerumus ke dalam neraka.” (Muttafaqun ‘alaihi dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu)

Demikian pula sabda beliau (yang arinya), “Barang siapa mengacungkan besi kepada saudaranya, para malaikat akan melaknatnya, meskipun ia saudara kandungnya.” (HR. Muslim dan at Tirmidzi dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu)

Larangan mangacungkan senjata kepada saudaranya ini bersifat umum, baik serius maupun bercanda. Sebab, makna mejadi target setan selain untuk dijerumuskan kepada kebinasaan. Dengan sedikit saja tersulut kemarahan, seseorang bisa tega membunuh saudaranya dengan senjata itu.

Adapun mengacungkan senjada kepada orang zalim menyerangnya dan akan membunuhnya, merampas hartanya, atau melukai kehormatannya, boleh bagi seseorang untuk menakut-nakutinya dengn senjata supaya terhindar dari kejahatannya. Apabila upaya manakut-nakuti ini berhasil, selesailah masalahnya. Namun, bila orang zalim itu tetap menyerang, ia boleh melakukan perlawanan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“Barangsiapa yang menyerang kamu, Maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 194)

Tidaklah Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam melarang kita dari bercanda dengan senjata kecuali karena khawatir dari (godaan) setan kepada orang yang beriman. Setan telah mengarahkan perangkapnya kepada orang yang beriman agar terjerumus dalam perkara yang menyeretnya kepada neraka dan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Demi menutup jalan yang berbahaya ini, kita dilarang bercanda yang bisa menimbulkan kejelekan dan menakut-nakuti muslimin atau bahkan mengakibatkan hilangnya nyawa.

Betapa banyak petaka yang kita saksikan candaan yang seperti ini. Misalnya, seseorang bercanda dengan berteriak keras di belakang punggung saudaranya yang sedang santau atau di sisi telinganya sehingga dia terkejut.

Semisal ini pula adalah mengejutkan seseorang dengan memnutahkan peluru di atas kepada saudaranya untuk menakut-nakuti. Demikian pula mengejutkan orang dengan membunyikan klakson mobil sehingga berdebar-debar jantungnya dan hampir copot. Ada juga mainan ular-ularan yang mirip ular sungguhan yang dilemparkan kepada orang lain yang tidak mengetahuinya. Ia sangka itu ular sungguhan sehingga terkejut dan takut tidak kepalang. Sungguh, candaan yang tersebut di atas dan semisalnya telah banyak menyisakan kepiluan dan trauma yang mendalam.” (lihat Ishalahul Mujtama’ hlm. 36-37)
Mengambil harta orang lain dengan bercanda.
Tidak dibenarkan menurut agama bercanda dengan mengambil harga atau barang milik saudaranya, lalu dia menyembunyikan di suatu tempat. Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
لاَ يَلْخُذَنَّ أَحَدَكُمْ مَتَاعَ صَاحِبِهِ لاَعِبًا وَ لاَ جَادًّا وَ إِنْ أَخَذَ عَصَا صَحِبُهِ فَلْيَرُدَّهَا عَلَيْهِ

“Janganlah salah seorang kalian mengambil barang temannya (baik) bermain-main maupun serius. Meskipun ia mengambil tongkat temannya, hendaknya ia kembalikan kepadanya. “(HR. Ahmad, Abu Dawud, at Tirmidzi, dan al Hakim). Asy Syaikh al Albani Rahimahullah menyatakan hasan dalam Shahil al Jami’)

Sisi dilarangnya mengambil barang saudaranya secara serius itu jelas, yiatu ia adlaah bentuk pencurian. Adapun larangan mengambil barang orang lain dengan bergurau karena hal itu memang tidak ada manfaatnya, bahkan terkadang menjadi sebab timbulnya kejengkelan dan tersakitinya pemilik barang tersebut. (Aunul Ma’bud 13/346-347)
Tidak menakut-nakuti di jalan kaum muslimin.
Menciptakan ketenangan di tengah-tengah masyarakat adalah hal yang dituntut dari setiap individu. Tetapi, karena kebodohan dan jauhnya manusia dari bimbingan agama, masih saja didapati orang-orang yang iseng dan bergurau dengan menakut-nakuti di jalan yang biasa dilalui oleh orang.

Bentuk menakut-nakutinya beragam. Ada yang modusnya dengan penampakan bentuk yang menakutkan, seperti pocongan atau suara-suara yang mengerikan terutama di jalan-jalan yang gelap. Model bercanda seperti ini sungguh keterlaluan karena bisa menyisakan trauma seseorang dari keperluannya, terhalanginya seseorang dari masjid dan majelis-majelis kebaikan. Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, lihat Shahihul Jami’ no 7659)
Berdusta untuk menimbulkan tawa.
Apabila seseorang bercanda dengan kedustaan, ia telah keluar dari batasan mubah (boleh) kepada keharaman. Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
وَيْلُ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلُ لَهُ وَيْلُ لَهُ

“Celakalah orang yang bercerita lalu berdusta untuk membuat tawa manusia, celakalah ia, celakalah ia.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at Tirmidzi dan al Hakim dari Mu’awiyah bin Haidah Radhiyallahu ‘anhu. Asy Syaikh al Albani Rahimahullah menyatakannya hasan dalam Shahih al Jami’)

Ia celaka karena dusta sendiri adalah pokok segala kejelekan dan cela, sehingga apabila digabungkan dengan hal yang mengundang tawa yang bisa mematikan hati, mendatangkan kelalaian, dan menyebabkan kedunguan, tentu hal ini lebih buruh. (Faidhul Qadir 6/477)
Akhirnya kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diberi taufik dan bimbingan Nya untuk selalu lurus dalam berbuat dan berkata-kata.

(Sumber: Bercanda Ada Etikanya, Asy Syariah No. 89/VIII/1434 H/2012 hlm. 70-74, 88)

KEUTAMAAN BERDZIKIR

images

Dzikir mengingat Alloh Adalah kegiatan yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan dimana saja, dan kapan saja, bahkan ketika kita sedang duduk, berdiri ataupun berbaring. Seperti firman Alloh subhanahu wata’ala dalam Al qur’an :
فإذا قضيتم الصلاة فا ذكروا اللة قياماوقعودا وعلى جنوبكم “Maka apabila kamu telah menyelesaikan sholat (mu), ingatlah Alloh diwaktu berdiri, diwaktu duduk, dan diwaktu berbaring. ( An-Nisa : 103 )
Karena itu untuk memotivasi kita agar senantiasa mengingat akan keutamaan dzikir dan kita senantiasa mengamalkannya berikut saya sampaikan dalil-dalil yang berkenaan dengan dzikir.
Alloh subhanahu wata’ala berfirman dalam Al Qur’an surat Al Baqoroh ayat152 yang artinya:
“ Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu ( dengan memberikan rahmat dan pengampunan ). Dan bersyukurlah Kepada-Ku , serta jangan ingkar ( pada nikmat-Ku )” ( Al Baqoroh : 152 )
Demikian juga dalam ayat-ayat yang lain
يا أيها الذين امنوا اذكروا اللة ذكرا كثيرا
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah yang banyak kepada Alloh ( dengan menyebut nama-Nya ). ( Al Ahzaab : 42 )
Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabdda:
“Barang siapa yang duduk disuatu tempat, lalu tidak berdzikir kepada Alloh didalamnya, pastilah dia mendapatkan hukuman dari Alloh dan barang siapa yang berbaring di suatu tempat, dan tidak berdzikir kepada Alloh, pastilah mendapatkan hukuman dari Alloh”.
HR. Al Bukhori dalam Fathul Bari 11/208. Imam Muslim meriwayatkan dengan lafadz sebagai berikut:
“Perumpamaan rumah yang digunakan untuk berdzikir kepada Alloh dengan rumah yang tidak digunakan untuk dzikir, laksana orang hidup dengan yang mati”. ( shohih Muslim 1/539 )
Dan masih banyak dalil-dalil yang menyebutkan keutamaan dzikir. Maka hendaklah kita selalu berdzikir kepada Alloh dengan memuji nama-Nya semoga kita menjadi hamba yang senantiasa bersyukur.

Pendahuluan

بسم اللة الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Alloh yang telah melimpahkan rahmatnya kepada kita semua, solawat serta salam kita curahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad Sholallohu’alaihi wasallam.
Pada tulisan pertama saya, saya ingin memperkenalkan diri saya sebagai Ummu Zarqa. Ingin sekali saya ikut berpartisipasi menyebarkan ilmu dan kebenaran meski nantinya mungkin akan banyak dari isi blog saya ini yang hanya mengambil dari blog tetangga yang sudah lebih berpengalaman dan dari sumber2 yang terpercaya, Insya Alloh.
Sehingga apabila nantinya saya melakukan kesalahan dari ketidak tahuan saya mohon agar saudara pembaca memperingatkan saya, dan saya memohon maaf kepada kalian semua dan memohon ampun kepada Alloh subhanahu wata’ala, semoga selalu membimbing saya dan memberikan taufik dan hidayahnya kepada kita semua.